Hari ini aku
melampiaskan kemarahan dalam sunyi, kemarahan yang tiada arti sebenarnya.
Hanyalah ulah sang maha tidak bertanggung jawab. Hari ini aku hanyalah ditemani
Tinta hitam dan kertas putih tanpa dosa yang aku
jadikan sasaran untuk kemarahanku ini. Kemarahan yang tidak henti pada
tanganku, aku menggoreskan tinta hitam di buku-bukuku, aku menggoreskan tinta
hitam yang masih putih polos. Kertas putih maafkanlah aku karena aku tiada
teman melainkan hanya kamu.
Kertas putih maafkanlah aku yang telah menodaimu
dengan tinta hitamku, maafkanlah aku yang telah meremasmu dengan kedua
tanganku. Kamu sangatlah berjasa dalam hidupku, mulai aku belum mengerti
bagaimana menulis huruf A dan sampai sekarang aku sudah memahami apa itu huruf
Z. Kertas putih kau sangatlah berharga ada di dunia ini, bayngkan berapa puluh
ribu juta manusia yang tidak bisa hidup tanpamu. Dulu kau hanyalah daun yang
dijadikan muntahan
tinta hitamku, namun sekarang kau sangat sempurna.

Kertas putih maafkanlah
aku yang telah mengkotorimu dengan Huruf-huruf
yang berjajar dan angka yang dijadikan diriku mempunyai inspirasi. Dulu aku
tidak mengenal bagaimana cara menulis huruf dan angka yang saat ini aku tulis
di tubuhmu kertas putih. Hanyalah ilustrasi yang akan jadikan untuk
membahagiakanmu. Bagaimana mungkin akau akan membahagiakanku sedangkan tinta
hitamku telah banyak mengkotorimu? Seandainya kau dapat berbicara maka aku
ingin bercerita banyak dengamu kertas putih. Kau terluka akibat kemarahanku,
kau terluka akibat egoku. Tinta hitam yang telah menggores tubuhmu akan lama
bisa hilang sebelum kau diterpa oleh kehancuran. Tinta hitam yang sudah
memenuhi tubuhmu akan hilang bila di terpa goresan namun itu sangatlah ada
bekasnya dan kamu tidak akan bisa seputih yang dengan yang pertama dengan saat
aku memakaimu. Kertas putih seandainya kau tahu keadaanku pasti aku akan lebih
bisa merasakan bagaimana sulitnya jadi aku.
Kemarahanku hanyalah
sementara ‘’kertas putih’’ besok atau lusa aku pasti aku akan baik dengan kamu
karena kamu tidak pantas untuk jadi ajang kemarahanku. Aku telah banyak berdosa
padamu karena aku telah banyak menorehkan tinta hitam padamu, namun ini semua
hanyalah aku jadikan untuk metode pembelajaranku, karena tanpa ada kamu aku
akan kebingungan untuk mencari lahan untuk pembelajaranku hidup di dunia yang
fana ini. Permainan dunia yang semakin seru, permainan dunia yang semakin
hebat, permainan dunia yang semakin levelnya di atas, maka kamu akan semakin
aku nodai dengan tinta-tinta hitamku. Namun aku bangga padamu karena engkau aku
dan semua golonganku tahu apa dan bagaimana yang namanya menulis huruf A sampai
Z. Dan aku tahu apa dan bagaimana cara menuliskan angka 1 sampai tak terhingga.
Dan terima kasih juga
kepada tinta hitam, karena engkau aku tidak ingin marah lagi, kau memang
sahabat sejatiku yang menemaniku dari aku masih remaja sampai aku sudah dewasa
dan sampai nanti aku masih tua. Kau sungguh sangat berjasa bagi hidupku. Kau
meredam kemarahanku, kau pun selalu ada saaat aku membutuhkanmu dan kau selalu
ada di manapun kamu berada tinta hitamku. Terima kasih kertas putihku dan tinta
hutamku. Dan aku mohon maafkanlah aku.