Sabtu11 november 2014
Hari
ini panas, panas oleh ulah isi dunia (manusia), panas yang dipancarkan oleh
sinar matahari. Semoga besok sudah tidak ada lagi yang namanya panas. Ramuan
dunia (isi dunia) terkadang bisa menjadikan kita panas, panas dalam berfikir
dan bertindak. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh manusia dan orang yang paling
dekat dengan kita bisa juga mengakibatkan panas. Karena tidak sealur dan
sejalan dengan fikiran kita, pekerjaan yang tidak kunjung usai juga bisa
menjadikan kita panas, panas dalam berfikir dan menjalankanya. Hari
sabtu sangatlah panas dengan semua suasana didirku, fikiran, keadaan, semua
panas. Makan siang hari ini menjadikan panas sampai mengeluarkan keringat ingin
rasanya minum es teh 5 gelas tanpa henti.

Berita kebanjiran di Sumatra dan Jakarta menjadi saya rindu dengan cucuran air hujan
yang sudah beberapa bulan ini tak kunjung dating. Cucuran air hujan yang sudah
meneggelami sebagian Jakarta dan Sumatra tak kunjung dating di daerah kami.
Sungguh tuhan kami rindu dengan air hujan. Air hujan di desa kami di terpa oleh
aingin siang malam yang tak ada henti ‘’buuuussss’’ aingin-aingin terus
menghembuskan di sudut-sudut rumah kami namun rasanya sangatlah masih panas,
hawa masing sangat panas. Tuhan kami butuh air hujan, air yang bisa di minum
setiap hari, air yang dibuat masak setiap hari dan air yang selalu menemani
aktifitas kami sehari-hari. Tuhan kami haus dengan air hujanmu, sampai kapan di
daerah kami akan terus panas seperti ini??
Tadi malam hembusan
hujan mulai terasa, rintikan hujan mulai membahasahi sedel jok sepeda motor
kami, namun semua itu hanyalah pemberi harapan palsu (php) oleh hujan yang akan
turun di daerah kami.
Rintikan hujan tadi malam menjadikan kami bangga walaupun
hanya setetes air yang telah kami rasakan, itu adalah petanda bagi kami bahwa
tuhan akan menurunkan hujan untuk kami di suatu hari nanti. Semoga besok lusa
atau tidak lama ini akan diturunkan hujan oleh tuhan kami karena warga sini
sangatlah rindu dengan rintikan air hujan. Pepohonan dan daun-daun sudah
menanti hujan, pohon besar di pinggir rumah kami setiap hari menangis akan
rindunya air hujan yang akan engkau turunkan, setiap hari setiap pagi pohon itu
menangis dengan menjatuhkan dedaunan-dedaunan yang ada pada rating-rantingya,
setiap hari ranting-ranting itu berjatuhan tanpa ada yang memberinya seteguk
air minum. Tanaman kangkung di belakang rumah kami pun rindu dengan airmu,
setiap malam dan setiap pagi harus menyiram tanpa di siram dengan alami, semoga
kangkung-kangkung itu tidak meninggalkan dunia ini (mati) . Hewan-hewan
sangatlah kehausan, ayam yang terletak di depan rumah tidak pernah minum
hanyalah makan (kesereten).
kunjungi blog sosiologi yang ingin mendapatkan ilmu tentang sosiologi disini